Rabu, 30 Mei 2012

HAKEKAT BELAJAR MATEMATIKA


Untuk mendapat gambaran mengenai bagaimana sebaiknya melaksanakan pembelajaran matematika, perlu kiranya dikaji terlebih dahulu hakikat dari belajar matematika. NSW (New South Wales) Department of Education, 1989 mengemukakan 5 hal yaitu: (1) siswa akan belajar dengan baik kalau mereka termotivasi, (2) siswa belajar matematika lewat interaksi, (3) siswa harus belajar matematika lewat investigasi, (4) siswa belajar matematika lewat bahasa, dan (5) siswa belajar matematika sebagai individu, namun tetap dalam konteks perkembangan intelektual, fisik, dan sosial. Kelima hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
a.         Siswa akan belajar dengan baik kalau mereka termotivasi
Belajar matematika itu akan lebih efektif apabila matematika itu menarik, menyenangkan, menantang, disamping dapat menumbuhkan rasa ingin tahu serta dapat memberikan keterampilan untuk memecahkan masalah. Dalam pembelajaran hendaknya dapat menimbulkan rasa ingin tahu, disesuaikan dengan tingkat berpikir siswa, dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa menyadari akan kegunaan dari matematika. Selain itu siswa hendaknya diupayakan senantiasa merasa berhasil dalam belajar sehingga timbul sikap positif terhadap matematika itu sendiri. Guru juga hendaknya berupaya untuk menumbuhkan motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran karena tanpa ada motivasi dari siswa, pembelajaran tidak akan berlangsung dengan baik. Adanya motivasi yang baik akan memberikan hasil yang baik dalam belajar. Motivasi siswa dalam pembelajaran dapat ditumbuhkan dengan senantiasa memberikan kegiatan yang menarik dan berguna bagi siswa, selalu memberikan pujian dan hadiah terhadap keberhasilan siswa, serta membuat siswa menyadari akan kegunaan matematika baik dalam pemecahan masalah matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari.
b.        Siswa belajar matematika lewat interaksi
Pembelajaran matematika hendaknya melibatkan interaksi siswa baik dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Hal ini akan mempermudah proses abstraksi yang diperoleh siswa terhadap ide-ide dalam matematika. Terjadinya interaksi dengan berbagai objek konkret (lingkungan fisik) serta terjadinya interaksi sosial diantara para siswa maupun siswa dengan guru akan mempermudah proses abstraksi pada diri siswa sehingga para siswa akan memiliki pemahaman yang lebih baik.
c.         Siswa harus belajar matematika lewat investigasi
Pembelajaran matematika hendaknya melibatkan investigasi mengenai pola, hubungan, serta proses. Implikasinya adalah siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan dan mendesain pola serta mendeskripsikan dan mencatat hubungan yang ada dalam pola tersebut. Kesempatan untuk menggunakan proses matematis dalam memecahkan masalah hendaknya diupayakan ada dalam semua kegiatan pembelajaran matematika. Siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk berupaya menemukan sendiri berbagai konsep matematika yang sedang dipelajari. Guru juga hendaknya tidak langsung memberitahu kepada siswa, tetapi lebih banyak memberikan pertanyaan-pertanyaan arahan yang memungkinkan siswa sampai kepada konsep yang mesti dipahaminya.
d.        Siswa belajar matematika lewat bahasa
Pembelajaran matematika hendaknya memperhatikan penggunaan bahasa secara tepat. Bahasa memegang peran penting dalam memformulasikan konsep-konsep serta sebagai jembatan antara keadaan konkret dengan keadaan abstrak. Implikasinya dalam pembelajaran adalah bahwa kegiatan matematika hendaknya dipandang sebagai kesempatan bagi guru dan siswa untuk menggunakan dan mengembangkan bahasa. Dalam proses pembelajaran, siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk menggunakan bahasa lewat kegiatan mengkomunikasikan hasil belajarnya, baik kepada guru maupun kepada temannya, sehingga siswa benar-benar dapat memahami makna bahasa terutama bahasa simbol yang banyak digunakan dalam matematika. Guru juga hendaknya memahami pola bahasa yang tepat bagi berbagai proses matematika, dan siswa harus diarahkan untuk menggunakan bahasa baik secara lisan maupun tertulis sehingga mendapatkan pemahaman yang tepat terhadap materi matematika lewat pengalaman belajar matematika yang diikuti. Siswa juga perlu diarahkan untuk memahami bahasa simbolik yang ada dalam matematika. Dalam hal ini siswa perlu diarahkan agar mereka biasa mengenal berbagai makna simbol-simbol dalam matematika sebagai suatu unsur bahasa.
e.         Siswa belajar matematika sebagai individu, namun tetap dalam konteks perkembangan intelektual, fisik, dan sosial
Pembelajaran matematika hendaknya memperhatikan perbedaan individu siswa, dan hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. NSW menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dalam memanipulasi benda konkret, dan penggunaan bahasa yang didasarkan atas lingkungan dan budaya siswa perlu diperhatikan oleh guru. Dengan kata lain, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuan matematika lewat pembelajaran. Reys, et al (1998) mengatakan siswa akan belajar matematika dengan baik kalau mereka sempat mengkonstruksi pemahamannya sendiri. Hal ini didasarkan atas tiga hal yaitu: (1) pengetahuan tidak diterima secara pasif, melainkan dikonstruksi sendiri oleh siswa, (2) siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika melalui keaktifan baik fisik maupun mental, dan (3) belajar itu mencerminkan suatu proses sosial dimana siswa terlibat dalam dialog atau diskusi pada saat mereka mengembangkan intelektualnya. Perlu ditekankan bahwa walaupun siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi suatu konsep dengan caranya sendiri sebagai suatu individu namun dalam pembelajaran di kelas, siswa tetap diarahkan untuk berinteraksi dengan siswa lainnya, misalnya melalui kegiatan kelompok atau kegiatan belajar berpasangan sehingga pada diri siswa tetap terjalin kerjasama di antara siswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar